10 Hari Terakhir Ramadhan Jangan Lupa I’tikaf

i'tikaf di masjid

I’tikaf dalam bahasa Arab berarti melekat atau mengikatkan diri pada sesuatu. Dalam Syariah, itu menandai orang tertentu yang tinggal di masjid dengan cara tertentu untuk waktu tertentu.

Ada pengertian i’tikaf adalah sebagai bentuk ibadah tidak pernah menjadi kewajiban dalam Islam, kecuali orang yang ingin untuk melakukannya.

Yang lain mengatakan bahwa puasa adalah syarat yang diperlukan untuk i’tikaf. Namun, yang lain berpendapat bahwa seseorang harus suci secara ritual, melalui wudhu (wudu ‘) atau mandi ritual (ghusl), untuk melakukan i’tikaf.

10 MALAM TERAKHIR RAMADAN DI MASJID

Kita tahu dengan pasti bahwa Nabi, karena dia damai, biasa melakukan i’tikaf  di bulan Ramadhan. Dalam tiga laporan berturut-turut tentang Nabi, baginya damai, dicatat dalam kumpulan paling otoritatif (yang dari ulama dikenal sebagai Bukhari) melaporkan pernyataan kenabian, tindakan, dan persetujuan (dikenal sebagai hadits), praktik  Nabi  i’tikaf tidak salah lagi didirikan.

Sahabat Abdullah ibn ‘Umar berkata: “Rasulullah SAW, damai sejahtera, biasa melakukan i’tikaf di 10 hari terakhir Ramadhan” (Bukhari, no. 2025).

Kastamonu,TURKEY-November 05,2017:Kasaba Village Mahmutbey Mosgue. Muslim man is praying in mosque

Aisha, istri Nabi, bersabda: “Nabi biasa mengadakan i’tikaf selama 10 malam terakhir bulan Ramadhan sampai dia meninggal dunia. Dan istri-istrinya terus melakukan i’tikaf [selama 10 malam terakhir] setelahnya (Bukhari, no. 2026).

Sahabat Abu Sa’id Al-Khudri berkata:

Rasulullah SAW, semoga damai sejahtera, biasa melakukan i’tikaf di tengah 10 hari Ramadhan. Suatu tahun, ia melakukan i’tikaf dan sampai pada malam ke-21, yang biasanya pada saat itu merupakan malam terakhir i’tikaf, setelah itu ia akan meninggalkan i ‘ tikaf keesokan paginya.

“Namun sesungguhnya, saya melihat dalam mimpi bahwa saya sedang bersujud [sujud, menundukkan dahi ke tanah dalam doa] di lumpur pagi hari setelah Laylat Al-Qadr. Jadi carilah dalam 10 malam terakhir. Dan carilah di setiap malam yang ganjil. “

Baca Juga :   China Boikot Produk-Produk Barat. Apa Alasannya?

Lalu langit malam itu turun hujan. Masjid itu beratap ilalang, sehingga atapnya bocor. Kemudian dengan mata saya sendiri saya melihat Rasulullah, pada dia damai, dengan jejak lumpur di dahinya pada pagi hari tanggal 21 (Bukhari, no. 2027).

MAKNA I’TIKAF

Bukhari menyebutkan i’tikaf di “semua masjid,” artinya i’tikaf sebagai tindakan ibadah harus dilakukan di masjid. Itu tidak dihitung di tempat lain sebagai tindakan penyembahan.

I’tikaf berarti “berdiam atau berdiam di masjid untuk waktu yang lama dengan tujuan membatasi diri di masjid dan meninggalkan kekhawatiran duniawi yang tidak penting dan kegiatan yang berkaitan dengan keluarga dan pekerjaan.” Itu bisa terjadi di bulan apa saja dengan jangka waktu berapa pun, tidak hanya di bulan Ramadhan atau dalam 10 hari terakhirnya.

I’tikaf mewujudkan mengabdikan diri untuk menyembah Tuhan. Jadi seseorang berdiam atau bertempat tinggal dalam i’tikaf di masjid – hanya berada di sana dengan niat itu – itu sendiri merupakan tindakan ibadah yang terus menerus setiap kali seseorang melakukannya seperti itu. I’tikaf adalah bentuk pengasingan yang dapat diterima dan benar.

You May Also Like

About the Author: pastisultanbos

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *